twinspatrol - Setelah hampir dua bulan saya tinggalkan karena suatu alasan, rasa bersalah membuat saya ingin mengganti kebersamaan bersama istri dan anak-anak yang telah hilang dengan mengajak mereka pergi berwisata. Namun kemana? awalnya saya berniat mengenalkan berbagai jenis binatang kepada si kembar dengan mengunjungi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan di Bukittinggi, namun setelah berembuk lagi pilihan kami akhirnya jatuh pada Tarusan Kamang loh kok bisa? memangnya disana ada kebun binatang juga?.
Sumatera Barat hanya memiliki 2 taman marga satwa, yang pertama yang saya sebutkan tadi dan yang kedua ada di Sawahlunto (Taman Satwa Kandi). Lalu kenapa kami memilih Tarusan Kamang?. Tarusan Kamang belakangan menjelma menjadi tujuan wisata favorit di Sumatera Barat, keelokan dan pesonanya bisa dikenal banyak orang berkat foto-foto Erison J. Kambari seorang fotografer berdarah Minang yang berkat foto-foto nya juga lah Tarusan Kamang sampai dijadikan salah satu lokasi syuting dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Tarusan Kamang merupakan sebuah danau yang sumber airnya tidak berasal dari hilir sungai seperti danau kebanyakan, melainkan dari sungai bawah tanah yang berada di bawahnya. Perubahan debit air sungai bawah tanah menjadikan danau ini di satu waktu dapat dipenuhi oleh air hingga terlihat begitu luas dan dilain waktu menjadi kering menyisakan hamparan padang rumput yang sangat luas. Karena keunikannya inilah danau ini dijuluki "Danau Bermuka Dua" dan menjadikannya magnet bagi banyak wisatawan termasuk kami. Dihari kedua saya di Bukittinggi, dengan ditemani adik ipar dan bapak mertua, akhirnya saya berkesempatan mengunjungi tempat yang oleh sebagian orang yang pernah kesana menyebutnya sebagai Hidden Paradise nya Sumatera Barat ini.
Tarusan Kamang, danau unik di negeri para perantau
Untuk mencapai tempat ini sebenarnya banyak rute yang dapat ditempuh, yang paling umum adalah dari Bukittinggi. Alternatif lain bagi yang datang dari arah Payakumbuh, Batusangkar ataupun Pekanbaru saat melewati Jl. Raya Batusangkar-Bukittinggi bisa masuk dari Simpang Canduang, Simpang Biaro atau Simpang Tanjuang Alam, Walaupun jalannya lebih berkelok-kelok dan membingungkan anda tidak akan tersesat selama masih mengenal istilah "Malu Bertanya Sesat Dijalan" seperti pilihan kami yang masuk dari Simpang Canduang. Tidak ada alasan khusus memilih rute ini hanya saja persimpangan ini memang yang paling dekat dengan rumah mertua.
Walau lokasinya cukup dekat tapi perjalanan ini kami tempuh hampir satu jam karena kebanyakan habis untuk berhenti dan bertanya arah menuju lokasi. Tidak adanya petunjuk arah yang dipasang oleh pemerintah setempat membuat perjalanan ini cukup menguras energi. Meski pemadangan area persawahan yang berada dikiri dan kanan jalan sangat menentramkan hati tapi tidak dapat dinikmati oleh si kembar. Berangkat siang hari memang bukan pilihan tepat, selain ini adalah waktu tidurnya mereka, cuaca yang panas juga membuat mereka sangat tidak nyaman hingga akhirnya hanya tidur selama perjalanan.
Singkat cerita kami pun akhirnya sampai di tujuan, rasa lelah selama perjalanan langsung sirna oleh pemandangan yang keindahannya tidak cukup diungkapkan dalam kata-kata. Disambut oleh gerombolan kerbau yang oleh pemiliknya dibiarkan bebas mencari makan, berenang didalam danau hingga ikut berebut lahan parkir dengan para pengunjung termasuk bapak mertua, membuat si kembar yang masih setengah sadar setelah sebelumnya kami bangunkan secara "paksa" tetap merasa seperti berada dalam dunia mimpi.
Walaupun lebih banyak dipenuhi oleh pasangan muda-mudi yang asik menikmati keindahan tempat ini sambil bercengkrama dan sesekali bertanya "Dek! kalau kita nikah nanti, kamu mau punya anak berapa?", tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tujuan wisata keluarga. Hamparan padang rumput yang luas bisa dijadikan tempat piknik yang asik atau bahkan playground bagi anak-anak. Karena momennya pas dengan si kembar yang lagi belajar berjalan, jadilah padang rumput ini matras bagi mereka. Dengan kontur yang landai, keseimbangan mereka dalam berjalan bisa saya latih disini, walau sering jatuh bangun saya tidak perlu khawatir karena padang rumput ini tidak akan membuat mereka terluka.
Mengajari mereka berjalan terasa sangat mudah dengan adanya mainan gelembung sabun yang banyak dijual dalam kemasan botol air mineral ukuran 250 ml seharga Rp10.000/botol. Dengan adanya gelembung sabun belajar berjalan jadi lebih menyenangkan, si kembar yang tadinya malas untuk berjalan kerena susah menjaga keseimbangannya kembali bersemangat karena ingin mengejar gelembung-gelembung sabun yang beterbangan tanpa peduli dengan uda-uni yang asik berpacaran dibelakang.
Langkah mantap si kecil mengejar gelembung sabun
Setelah puas bermain, tak terasa perutpun mulai keroncongan. Saat berniat mencari tempat makan, kami baru sadar ternyata disini tidak ada yang menjual makanan berat, yang ada hanya "Karupuak Mie Kuah Sate", Pop Mie dan aneka gorengan. Sementara si Bunda bikin susu buat si kembar dan om Ferdi berusaha menenangkan keponakannya yang rewel karena kelaparan, saya dan bapak mertua yang tidak pernah ngobrol lebih dari lima kata ini beralih ke warung kopi untuk PDKT sambil ngopi2 cantik ditemani pisang goreng. Sekedar saran buat anda yang berencana main kesini, sebaiknya membawa bekal atau makan dulu di Bukittinggi.
Kegiatan menarik lainnya yang dapat dilakukan disini adalah "uji nyali" naik rakit bambu menyusuri danau hingga bagian pulau yang ada di tengah-tengah dengan biaya Rp5000/orang. Kenapa uji nyali? bagi saya yang tidak bisa berenang rasanya akan seperti itu, hal ini tentu tidak bagi anda yang bisa T_T. Terselamatkan oleh panasnya terik matahari siang itu, kegiatan ini tidak jadi kami lakukan meskipun sebelumnya saya memberanikan diri untuk menaikinya demi menjaga gengsi sama adik ipar dan bapak mertua hahahaha.
Selain danau itu sendiri, yang menjadi daya tarik dari tempat ini adalah banyaknya terdapat gua aktif dan sungai bawah tanah yang berada dibawah bukit karst disekitar danau yang konon katanya belum pernah diteliti. Bagi anda penyuka kegiatan penelusuran gua hal ini tentu sangat menarik. Selain melakukan penelusuran anda juga dapat melakukan uji nyali disini, kalau yang ini saya serius. Belum pernah ada yang masuk untuk menelusuri dan kembali lagi untuk menceritakannya ^_^. Anda berani jadi yang pertama untuk memetakannya?
Cuaca yang panas membuat kami tidak bisa berlama-lama disini. Rasa lapar yang tidak bisa dipuaskan hanya dengan gorengan dan karupuak mie kuah sate juga memaksa kami harus meninggalkan tempat ini. Senyum puas si kembar saat beranjak menuju tempat parkir cukup mewakilkan betapa tempat ini pantas untuk anda jadikan tujuan wisata berikutnya bila berkunjung ke Sumatera Barat.
Tarusan Kamang
Alamat :
Jorong Babukik dan Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Tiket & Parkir :
Karena dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat, tidak ada tiket masuk khusus yang dikenakan pada pengunjung, begitu juga dengan parkirnya hanya perlu memberikan seiklasnya.
Untuk dapat mencapai tempat ini dan menikmati keindahannya anda tidak perlu mengeluaran biaya yang besar yang anda butuhkan hanyalah keberuntungan. Disebut sebagai danau ajaib memang bukan tanpa alasan. Tidak ada yang dapat memprediksi kapan danau ini terisi penuh dengan air dan kapan pula danau ini mengering. Sekedar informasi, kunjungan kesini kami lakukan di bulan Desember 2015 lalu.









No comments:
Post a Comment