twinspatrol - Setelah sebelumnya mengajarkan mereka berjalan disini, sekarang saatnya membiarkan mereka bebas berlari. Ya, mereka memang jarang berlari. Keterbatasan ruang gerak membuat mereka kesulitan melakukan aktifitas sederhana ini. Meski beberapa bagian rumah telah kami renovasi sedemikian rupa hingga lebih mirip taman bermain dari pada ruang keluarga, namun masih saja tidak cukup bagi mereka sampai akhirnya terpikirlah ide untuk mengajak mereka pergi ke Kota Tua. Sebagian dari anda mungkin akan bertanya, "Jika hanya ingin melihat mereka bebas berlari mengapa mesti ke Kota Tua, bukankah tempat ini tidak cukup ramah untuk keluarga dan juga mereka?".
Selain tujuan utamanya untuk membiarkan mereka bebas berlarian, kami juga berkeinginan untuk melatih mereka agar terbiasa dengan keramaian. Selalu berada dalam lingkungan yang sama, tenang dan itu-itu saja kami rasa tidak baik untuk perkembangan mereka. Mereka perlu diperkenalkan dengan berbagai macam lingkungan agar nanti terbiasa bila dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda, dan bicara soal keramaian, Kota Tua adalah tempatnya. Berada dekat dengan Stasiun Kereta membuat Kota Tua sangat mudah untuk dikunjungi hingga tidak heran selalu dipenuhi oleh lautan manusia. Banyaknya museum dan situs bersejarah disekitarnya juga menjadi faktor utama mengapa tempat ini selalu jadi tujuan wisata.
Bukan museum dan bukan juga situs bersejarah yang jadi pilihan kami, melainkan Lapangan Fatahillah yang kami nilai paling sesuai dengan tujuan jalan-jalan kali ini. Mengetahui jalur pedestrian menuju lapangan ini sangat tidak stroller-friendly karena dulu sewaktu muda pernah pacaran disini, kami pun berangkat menggunakan taksi. Meski bisa memberikan pengalaman baru bagi anak-anak, namun berangkat menggunakan kereta api tidak termasuk dalam alternatif pilihan kami. Selain kondisinya yang kami yakini akan penuh sesak karena kami akan berangkat siang hari, banyaknya besi penghalang yang harus dilewati saat keluar dari stasiun juga menjadi alasan mengapa kami tidak memilih kereta api.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kami pun akhirnya sampai di Kota Tua. Benar saja, kerumunan orang sudah terlihat disepanjang jalan mulai dari pintu keluar stasiun hingga jalan masuk menuju lapangan. Tidak terbayangkan bagaimana repotnya bila tadi kami memilih kereta api kemudian harus melewati kerumunan ini dengan menggendong si kembar sembari mengangkat stroller dan ini harus dilakukan berulang kali. Melihat kami kebingungan karena tidak tau harus turun dimana, bapak sopir taksi menyarankan kami untuk memutar dan turun di jalan Kunir saja karena menurut pengalamannya kondisinya tidak terlalu ramai seperti jalan masuk lainnya. Sopir taksi ini waktu mudanya pasti lebih sering pacaran disini ketimbang kami hingga tau semua jalan masuk menuju tempat ini, begitu pikir kami.
Setelah di drop-off oleh sopir taksi di jalan Kunir, kami pun bergegas menuju Lapangan Fatahillah dengan menyusuri jalan yang berada disamping Gedung Jasindo. Ucapan terima kasih rasanya perlu kami berikan lagi untuk sopir taxi tadi, karena berkat sarannyalah kami dapat berjalan dengan tenang tanpa perlu berdesak-desakan dan hanya perlu menggangkat stroller sekali.
Tidak tega melihat bundanya yang susah payah mendorong stroller menembus keramaian sementara ayahnya asik sendiri dengan mainan barunya, Kevan pun ikut membantu mendorong stroller dengan Kevin yang masih terlelap di dalamnya. Pepatah yang mengatakan "Banyak Anak, Banyak Rezeki Hemat Energi" mungkin memang benar adanya. Karena dilakukan secara sukarela, meski tenaganya tidak seberapa namun dapat mengembalikan tenaga si bunda hanya karena melihat tingkah anaknya. Lalu bagaimana dengan ayahnya? juga sama, tenaganya kembali terisi untuk kembali asik sendiri dengan hobi barunya ^_^.
Sesampainya dilapangan, Kevan pun berusaha membangunkan kembarannya dengan memukul-mukul kakinya seakan ingin mengatakan "pin, buluan bangun, banyak tante-tante manis nih disini lugi tau kalau tidul telus". Tidak tahan melihat lapangan didepannya sementara kembarannya masih tidak bisa ia bangunkan membuat Kevan langsung berlari ke arah tante-tante manis tengah lapangan sambil sesekali melihat kebelakang seakan takut akan kami larang. Tidak mendengar adanya kata "jangan" membuat ia pun makin percaya diri berlarian kesana kemari seakan ingin meneriakkan "I Fell Flee" tanpa ingat lagi dengan kembarannya yang masih tertidur pulas dalam strollernya.
Setelah puas berlarian, rasa capek dan ngantuk membuatnya mulai merengek. Kami yang juga sudah mulai kelelahan karena sejak tadi terus mengikutinya memutuskan untuk juga sejenak beristirahat. Meski sebelumnya berencana untuk istirahat di Cafe Batavia karena kebetulan si bunda ngidam dengan es krimnya, tapi justru malah masuk ke Kedai Pos yang lokasinya paling dekat dengan kami berada. La gimana ceritanya, pengennya ke cafe tapi masuknya malah ke kedai. Melihat kondisi anak-anak yang sudah tidak mungkin lagi kami bawa untuk berkeliling mencarinya, membuat kami akhirnya memilih tempat makan ini dengan membajak 1 tenda yang berada didepannya.
Kami yang sebelumnya memang sudah makan siang sengaja tidak lagi memesan makanan berat. Si bunda yang tadinya kecewa tidak bisa makan eskrim yang ia inginkan, tanpa peduli dengan suaminya yang tidak pernah suka dengan baunya memesan 1 porsi Ketan Durian. Karena tidak mungkin saya larang dengan alasan lagi ngidam, saya pun "terpaksa" membiarkannya dan memesan 1 porsi Pisang Bakar, 1 porsi Tape Bakar ditambah 1 cangkir Kopi Americano sebagai balas dendam. Hahaha... rasain, bayar tuh nanti.
Setelah menunggu beberapa saat, menu yang kami pesan pun datang. Awalnya sempat kaget, pesanan kami disajikan dengan cara yang berbeda dan jauh dari bayangan saya sebelumnya. Hiasan bubuk kacang ditambah topping lelehan coklat membuatnya jadi tampak sempurna dan sangat menggugah selera. Lalu bagaimana dengan rasanya? cukup lezat seperti tampilannya hingga si bunda bisa lupa dengan rasa kecewanya karena pesanannya juga sudah tidak tersedia.
Meski ukurannya tidak terlalu luas dan disainnya pun cukup sederhana, tempat makan ini layak untuk anda coba. Bukan karena dapat potongan harga atau juga pembelaan karena tidak bisa makan di Cave Batavia, pilihan menu yang variatif, harga yang bersabahat ditambah pelayanan yang ramah membuat kami betah berlama-lama. Untuk ukuran tempat makan yang lokasinya ditengah-tengah keramaian, harga menu makanan mereka memang cukup murah, jadi niat saya tadi untuk balas dendam pun harus ditunda.
Kevan yang memang sudah sangat kelelahan meski bermandikan keringat tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat tertidur dengan sendirinya. Sementara Kevin seakan tau kalau gilirannya sudah tiba, seketika bangun untuk kemudian mengajak saya berlarian ketengah pusat keramaian. Meski sempat tertegun dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, namun godaan tante-tante manis untuk berlarian bebas dilapangan yang luas tidak dapat ditolaknya.
Dapat melihat mereka tertawa lepas dan berlarian dengan bebas, membuat kami cukup puas dengan jalan-jalan kali ini. Meski dilakukan dengan cara yang tidak biasa yang jauh dari definisi baik dan benar menurut Kamus Bahasa Indonesia, gaya mereka berlari sebagaimana halnya dengan tingkah mereka lainnya selalu dapat membuat kami tertawa.
Menghabiskan waktu disini dengan hanya berlarian tanpa mengunjungi satupun museum dan situs bersejarah memang rugi rasanya. Namun apa boleh buat, dengan umur mereka sekarang pengetahuan mengenai dunia pewayangan ataupun sejarah berdirinya Jakarta saat ini belum ada manfaatnya bagi mereka. Di umur mereka yang belum genap 1 tahun 7 bulan, yang perlu mereka ketahui cukuplah pengetahuan mengenai hal-hal seperti : berlarian tanpa memperhatikan langkah dapat membuat mereka terjatuh, berlarian dengan mulut terisi makanan dapat membuat mereka tersedak dan semacamnya. Jadi, keliling museumnya kita simpan buat cerita nanti saja.
Menjelang sore kondisi lapangan pun makin ramai. Tidak ingin anak-anak terganggu tidurnya dengan keramaian ini sementara hari ini waktu tidur mereka sudah sangat berkurang membuat kami memutuskan untuk segera pulang. Berbeda dengan ketika masuk tadi, saat keluar lapangan untuk mencari taksi kami tidak perlu mengangkat stroller lagi. Oleh bapak security yang sama baiknya dengan sopir taksi tadi, pagar besi yang sengaja dipasang untuk menghalangi kendaraan bermotor masuk ke area ini secara khusus dibukakan untuk kami. Meski bukan perlakukan spesial, entah karena tugas atau hanya karena rasa kasihan, kami merasa sangat terbantu. Sebut saja ini rezeki punya anak kembar.








No comments:
Post a Comment