Drama Perjalanan Pulang dari Taman Bunga Nusantara


twinspatrol - "Gak bisa lewat sini" jawab laki-laki paruh baya itu - pemilik warung kopi ketika kami tanya arah menuju Jakarta. Setelah sebelumnya terlalu bergantung pada GPS yang membawa kami sedikit lagi hampir jadi headline berita "Jelang Puasa, Fortuner Menabrak Mini Bus hingga Tergelincir ke Jurang, 9 Orang Luka-Luka" memaksa kami kembali menerapkan peribahasa lama, bertanya pada penduduk disana. "Jalan ini buntu mas, harusnya tadi belok kanan sebelum naik kesini" tambahnya lagi. "Hah, buntu?".

. . .

Cerita berawal ketika ibu mertua berkunjung sekitar setahun yang lalu saat menunggu proses kelahiran anak ketiga kami yang tinggal hitungan hari. Niat awalnya mau bantu jaga si kembar karena si bunda mulai kewalahan. Ibu mertua vs si kembar, kira-kira seperti apa hasilnya?. Saya yang dulu pernah fitness setahun di Sabuga saja gak kuat jagaian mereka seharian, gimana ceritanya dengan mertua yang gak pernah ikut fitness ini? belum juga sehari ibu mertua sudah mengeluh kakinya sakit lagi.

Atas dasar itu, minggu sekitar jam 6 pagi, kami sekeluarga ditemani andri (adik) dan egi (calon adik ipar) berangkat ke Gunung Putri - mengobati ibu mertua ditempat pengobatan alternatif yang sudah jadi langganan keluarga. Dari sana, setelah selesai dengan kegiatan pijit-memijitnya, saya yang waktu itu merasa sayang kalau langsung pulang ke Jakarta mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan ke arah Puncak menuju taman bunga yang jadi Keukenhof-nya Indonesia, Taman Bunga Nusantara.


Sejauh ini, kunjungan ke taman ini bisa dibilang sebagai perjalanan paling nekat yang pernah kami lakukan. Nekat karena ini perjalanan darat paling jauh yang pernah kami tempuh, dengan kondisi; si kembar yang belum genap 2 tahun, si bunda yang tengah hamil tua, ibu mertua yang belum sembuh dari salah uratnya, dan saya yang setengah hati berangkat karena hari itu tanggal tua. Meski terbilang nekat, rasa capek yang kami dapat selama perjalanan sebanding dengan keseruan yang kami rasakan begitu sampai disana.




Layaknya sebuah taman, disana juga bisa ditemukan beraneka ragam jenis bunga, bunga dalam arti sesungguhnya (bukan bunga bank yang identik dengan debt collector jika kamu telat membayarnya ataupun bunga deposito yang dapat membuat beberapa wanita diluar sana dengan mudahnya berkata "aku padamu mas" tanpa peduli dengan bentuk wajah dan tinggi badanmu - yang apa adanya itu). Mulai dari bunga mawar yang berasal dari China sampai pohon kaktus yang jadi ciri khas kawasan Mediterania bisa dijumpai disana dan uniknya lagi semuanya ditata dalam bermacam-macam tema yang bisa menyegarkan mata saat melihatnya.


Selain cuci mata dan juga selfie-an yang dapat menista instagram, apalagi yang bisa dilakukan disana?. Dengan beragamnya tema taman yang ada, banyak yang bisa dilakukan, tegantung tingkat keberuntunganmu. Kamu yang "beruntung" (dalam waktu dekat berubah status dari lajang menjadi suami/istri orang), disana bisa melakukan sesi foto pre-wedding sesuai tema pernikahan, misal foto-foto di Taman Angsa bila kamu dan pangeran kodokmu memilih Tema Dongeng jadi tema pernikahan atau bergaya ala ninja dengan adegan jav-nya di Taman ala Jepang jika Tema Budaya yang jadi pilihan.


Bagaimana dengan kamu yang "kurang beruntung" (pacar gak punya, dikejar debt collector pula)?. Tenang, tempat ini juga cocok buat kamu. Kamu bisa ke Taman Mawar, selain ada bunga mawar tentunya, disana juga bisa kamu temukan Bunga Desa. Bedanya, yang satu dirangkai diatas teralis kawat dan gak boleh dipetik, sedangkan satunya lagi foto-foto dibawahnya minta dipetik, kali aja satu ada yang jadi jodohmu kalau kamu punya deposito. Bagaimana dengan debt collector nya? tenang gak usah panik, kamu bisa ajak dia ke Taman Labirynth main petak umpet dan kucing-kucingan disana, niscaya dia akan lupa nilai tunggakanmu dan kamu pun akan lupa dimana kamu berada.


Nah buat kita (saya dan kamu yang seperti saya) yang "pernah beruntung" (punya buku nikah tapi tiap hari isi dompetnya dijatah) bisa ke Taman Alam Imajinasi yang ada dibelakang komplek ini. Disana kita dapat melatih ketangkasan anak-anak dengan mengendari ATV/UTV atau menguji keberanian mereka dengan menaiki wahana Sradak SrudukArung ApungPlembungan dan Sundul Langit. Sekedar seru-seruan mandi bola di Istana Sikumba juga bisa. Seru, iya seru. Sebagaimana seharusnya sebuah cerita jalan-jalan diawali dan dilalui, sampai kami mengakhirinya dengan sutu keputusan yang akan kami sesali untuk 6 jam berikutnya - pulang ke Jakarta melalui Jonggol.

. . .

Beberapa jam sebelumnya, tepatnya jam 4 sore. Kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta setelah puas seharian seru-seruan disana. Sebagai satu-satunya yang bisa bawa mobil, andri menawarkan jalur alternatif karena tidak mau ikut macet-macetan di jalur puncak yang sudah memasuki jam buka tutup. "Kalau lewat Jonggol gimana bang?" tanyanya, sambil menunjukkan rute berwarna hijau dilayar GPS nya. "Terserah, mana yang cepat aja" jawab saya.

Dari sana, perjalanan pulang kami mulai dengan belok kiri ke jalan mariwati menuju Jonggol dengan harapan bisa lebih cepat sampai di Cibubur. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh GPS, perjalanan kami berjalan lancar awalnya, untuk beberapa saat, sampai muncul ide gila dari sang sopir "bang, kalau lewat sini bisa sampai di Sentul nih" sambil menunjukkan satu rute yang lebih pendek yang juga tak kalah hijau. Saking hijaunya, sampai tak kami sadari hanya kami yang melewati jalan itu, jalan tanah berbatu dengan pemandangan rumah penduduk dikiri dan jurang dikanannya.

"Awasss...." teriak ibu mertua begitu mobil yang kami tumpangi berpapasan dengan sebuah mini bus yang oleh 9 penumpangnya juga disauti dengan teriakan yang sama. Entah bagaimana mini bus itu bisa muncul dihadapan kami ditikungan yang seharusnya hanya bisa dilalui oleh satu mobil itu. Nyaris tabrakan, andri yang sewaktu itu jadi sopir langsung mengucap "alhamdulillah" saat menoleh kebelakang melihat mobil tersebut masih ada diatas jalan dan bukan ada dibawah jurang, namun kemudian mengumpat "sialan" karena mobil itu terus melaju tanpa berhenti untuk mengucap salam.

Masih dalam kondisi terparkir, saya pun turun menyusul andri yang lebih dulu turun karena penasaran dengan suara benturan yang juga kami dengar sesaat setelah suara teriakan yang sama-sama tak enak didengar. Melihat kondisi bamper depan, wajar rasanya jika tadi dia juga berujar "innalillah" dengan kedua tangan dikepala begitu pertama kali melihatnya. Baret dan penyok, kerusakan yang didapat akibat banting stir ke kiri hingga menabrak gundukan tanah untuk menghindari mobil yang muncul entah darimana tadi.

Sementara andri masih larut dalam lamunannya (memikirkan alasan apa yang harus diberikan pada calon mertuanya - si empunya mobil) saya pun beranjak ke warung kopi yang ada diatas tanjakan tak jauh dari sana. Disana, buntu adalah jawaban yang saya terima, jawaban yang sebenarnya tak saya harapkan setelah hampir satu jam melewati jalan yang jauh dari kata layak hingga nyaris mengalami kecelakan. Waktu itu, diterima kerja dengan status magang padahal sudah sarjana rasanya masih lebih baik dari pada putar balik kembali melewati jalan yang sama.

Setelah kembali ke jalan mariwati bukan berarti perjalanan kami berubah jadi lancar, dramanya justru dimulai dari sini. Dengan kondisi jalan yang labil, kadang bagus dengan aspalnya yang rata, kadang rusak dengan banyaknya lubang yang ada, membuat perjalanan ini terasa berat, berat bagi kami yang tidak terbiasa dengan goncangannya dan sangat berat bagi si bunda yang takut akan keselamatan kandungannya.

"Yah, kalau liat puskesmas berhenti dulu ya" pinta si bunda dengan suara lirih, yang sejak tadi terus memegangi perutnya menahan rasa sakit seakan sudah memasuki pembukaan pertama. "Iya, nanti kalau ada puskesmas kita berhenti, sekarang bunda tahan dulu ya" jawab saya, mencoba menenangkannya. Tidak berhenti disitu, keadaan diperparah dengan si kembar yang juga ikutan rewel, menjadikan saya sansak sasaran amukan mereka karena merasa sebentar lagi ada yang akan mengambil perhatian kami dari mereka.

Praktis beberapa jam itu jadi saat-saat paling mendebarkan dalam hidup saya, mengalahkan ke(tegang)an melewati malam pertama ataupun rasa gugup saat wawancara kerja. Sungguh, hanya dua hal yang bisa menenangkan saya malam itu, bukan Jonggol bukan juga Jakarta tapi jalan aspal lengkap dengan PJU nya dan Puskesmas dengan ruang bersalinnya yang beberapa jam kemudian tak juga kunjung kelihatan papan namanya.


Taman Bunga Nusantara

Alamat :
Jl. Mariwati Km 7, Desa Kawung Luwuk, Kec. Sukaresmi - Cianjur, Jawa Barat

Jam Operasional :
Senin s.d Jumat, Pukul 08.00 - 17.00 WIB
Sabtu, Minggu dan Hari Libur Nasional, Pukul 08.00 - 17.30 WIB

Tiket :
Rp40.000/orang (4 tahun ke atas)

Website Resmi :
http://www.tamanbunga-nusantara.com

No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@indrahayadi