Keliling Taman Mini Ala Si Kembar


twinspatrol - Hampir enam tahun nyari nafkah di Jakarta tapi belum pernah sekalipun bawa anak ke TMII, kalau bukan keterlaluan apalagi namanya. Kalau saja almarhum Pak Harto masih hidup mungkin saja saya udah dibedil dan tinggal nama karena saking kesalnya. Gimana gak kesal, inikan penistaan namanya, susah payah dia bangun tapi sekalipun gak pernah diliatin. Kalau dipikir-pikir memang kebangetan, masa dari rumah jaraknya cuma beberapa kilo aja tapi kok malas banget buat mampir kesini. Padahal dulu tiap ada kesempatan ke Jakarta, nyokap selalu ngajak kami main kesini. Lha, ini sama anak sendiri malah gak pernah dibawa.

Sampai waktu mau berangkatpun belum jelas tujuannya kemana, yang kebayang oleh saya cuma dua, kalau gak naik Perahu Angsa ya nongkrong disalah satu Anjungan Daerah-nya. Berhubung si bunda belakangan sering uring-uringan karena udah lama gak liat Rumah Gadang sekalian aja bawa ke Anjungan Sumatera Barat, siapa tau abis dari sana gak ngerengek-rengek lagi minta mudik begitu pikir saya. Nah buat si kembar yang gak pernah pilih-pilih mau diajak kemana, selama itu keluar rumah dan gak liat tembok lagi kalau diajak naik perahu angsa pasti juga udah senang mereka. Jadi, tugas sebagai kepala keluarga yang harus bisa mengakomodir keinginan setiap anggota keluarganya akan dapat saya jalankan dengan baik hari ini, begitu rencananya.

PERAHU ANGSA

Singkat cerita kamipun sampai di Taman Mini. Setelah melewati gerbang utama, sopir taksi kami arahkan langsung menuju Danau Miniatur Arsipel Indonesia tujuannya apalagi kalau bukan naik Perahu Angsa. Dari beberapa dermaga yang ada, pilihan kami jatuh pada dermaga yang berada tepat dibelakang Stasiun Aeromovel Taman Nusa karena tertarik juga menaikinya. Meski semuanya sepakat menjadikan wahana ini jadi yang pertama, masing-masing dari kami punya alasan yang berbeda. Bagi Ibu Mertua "karena masih pagi jadi tidak terlalu panas", bagi si bunda "sebagai ganti karena dulu gak pernah pacaran disini", bagi saya "melatih anak agar terbiasa dengan genangan air" "bernostalgia membangkitkan kenangan masa kecil".


Seakan lupa kalau suaminya gak bisa berenang, si bundapun merengek minta ikutan. Meski sudah diingatkan kalau dia lagi hamil tua, tidak juga bisa menyurutkan niat gilanya. Kalau nanti kenapa-napa, kan ada ayah begitu katanya. Kalau udah begini didebat bagaimanapun percuma, daripada nanti malam dia nyari-nyari alasan minta dipijit kan lebih repot, mending sekarang ngalah aja. Masih untung dia gak ingat minta mudik, karena kalau sampai dia ingat, lima juta bisa melayang itupun baru buat tiket doang belum yang lainnya. Kemampuan saya sebagai seorang ayah yang dituntut harus bisa multitasking benar-benar diuji kali ini, bagaimana tidak, sementara kedua kaki susah payah menyaguh pedal perahu karena bebannya berlebihan, tangan kiripun sibuk memegangi si kembar yang gak pernah mau diam, mulut juga gak mau kalah terus meneriaki si bunda yang gak bisa bedain mana kiri dan mana kanan, sedangkan tangan kanan memegang erat kamera menjauhkan dari jangkauan mereka untuk mengabadikan ini semua.


Dari 20 menit jatah yang kami punya, yang kepakai paling gak sampai setengahnya. Pengennya sih lama-lama tapi apa daya yang mau berkeringat cuma saya. Lain cerita kalau si kembar ikut gantian mengayuh pedalnya, kalaupun mereka mau tapi kan gak mungkin, kak Seto bisa ngamuk kalau sampai melihatnya. Sadar masih banyak wahana lain yang ingin kami coba, kamipun memutuskan untuk mengakhiri nostalgianya toh tujuan utamanya udah terpenuhi. Kalau sebelumnya mereka meronta karena gak mau air membasahi kakinya, sekarang mereka berteriak kegirangan karena bisa berada diatasnya. 

KERETA GANTUNG

Setelah cukup beristirahat dan tenaga kami (maksudnya saya) kembali, kamipun berbegas menuju Stasiun Kereta Gantung. Niat sebelumnya naik aromovel terpaksa kami batalkan karena si bunda gak mungkin kami ajak naik tangga untuk bisa sampai keatas stasiun, bisa lain ceritanya kalau sampai dia mules trus lahiran diatasnya. Lahiran diatas mobil sih udah biasa, tapi kalau lahiran diatas aeromovel beritanya bisa kemana-mana.


Jarak antara stasiun aeromovel dan stasiun kereta gantung yang kami tuju sangat jauh, yang satu ada didepan Anjungan Sumatera Utara sedangkan yang satunya lagi ada diseberang Anjungan Papua, kebayangkan jauhnya Medan - Jayapura?. Dengan luas hampir 150 hektar, wajar saja sebagian besar pengunjung disini membawa kendaraan pribadi. Lalu bagaimana dengan kami yang jangankan mobil brosurnyapun tak punya, masa mau jalan kaki? Untungnya disini ada Mobil Wisata Nusantara, sejenis mobil wara-wiri yang bisa digunakan hanya dengan membayar tiket sebesar Rp10.000/orang untuk 3x pemakaian. Selama perjalan terus kepikiran, gimana nanti kalau si bunda sadar dia juga gak bisa ikutan naik seperti tadi. Stasiun aeromovel yang anak tangganya aja gak seberapa dia gak bisa naik, apalagi stasiun kereta gantung yang tingginya jauh diatasnya. Kalau sampai dia ngambek trus minta mudik, bisa jadi makin lama nebus mobilnya.


Begitu sampai di stasiun kereta gantung, apa yang tadi saya khawatirkan tidak sampai jadi kenyataan. Berbeda dengan stasiun aeromovel, walau lebih tinggi stasiun ini punya ram untuk didaki, jadi si bundapun bisa ikut naik bersama kami. Satu kekhawatiran ilang, muncul lagi ke khawatiran baru. Ingat komplek ini dibangun zaman Orde Baru, dikepala muncul pikiran yang enggak-enggak, gimana nanti kalau kabelnya putus, gimana nanti kalau tiang penyangganya roboh, gimana nanti kalau ...bla bla bla. Meskipun punya pikiran seperti itu, ngeliat anak-anak yang udah kelewat girang mau naik sesuatu yang selama ini cuma mereka lihat diacara tv membuat sayapun gak sampai hati ngajak mereka untuk turun lagi.

TAMAN BURUNG

Selesai dengan kereta gantung, penjalanan kami lanjutkan menuju Taman Burung setelah sebelumnya istirahat dan makan siang di kantin yang ada disamping stasiun. Kali ini gak perlu naik mobil wara-wiri karena jaraknya cukup dekat, hanya butuh 5 menit jalan kaki. Sesampainya disana, begitu melewati pintu masuk kami disambut satu stand yang menawarkan berfoto bersama burung-burung koleksi mereka. Ada burung elang, burung hantu, burung warna putih, burung warna hijau (gak tau namanya) dll. Sayang si kembar takut dengan mereka, dicoba beberapa kalipun tetap sama gak ada satupun dari mereka yang mau diajak berfoto dengan burung-burung itu.


Memilih Taman Burung jadi yang ketiga memang pilihan yang tepat. Meski cuaca sedang panas-panasnya karena sudah memasuki tengah hari, kami masih dapat berjalan dengan nyaman dengan banyaknya pohon-pohon lindung yang ada dikiri-kanan jalur pedestriannya. Bayangan saya selama ini tentang Taman Mini berubah saat berada disini. Gak cuma Perahu Angsa dan Kereta Gantung, tenyata disini juga bisa ditemukan banyak jenis binatang, mulai dari beragam jenis unggas seperti yang ada di taman ini atau aneka hewan melata seperti yang ada di Taman Reptil. Padahal selama ini seingat saya, binatang itu adanya cuma di Ragunan atau kalau gak ya pas waktu dengar mantan bos kalau lagi kesurupan.


Rasa antusias untuk menjelajahi semua kubah yang ada harus kami tahan karena waktu sudah menunjukkan jam tidur siangnya si kembar. Tidak mau menahan kantuk mereka lebih lama, kamipun memutuskan hanya mengunjungi satu kubah saja, Kubah Timur yang sesuai namanya berisi ragam burung dari Indonesia Timur. Saat menuju kesana kami sempat berhenti didalam gua yang ada dipinggir danau. Disana, sementara sibunda menjalankan tugasnya (membuatkan susu untuk mereka) sayapun menjalankan bagian saya (mengenalkan hal baru pada mereka)"memberi makan ikan". Dengan banyaknya pengalaman baru yang bisa kami berikan untuk mereka, kamipun sepakat untuk berlama-lama disini. Sambil milih-milih wahana mana lagi yang akan kami kunjungi begitu si kembar bangun nanti, si bundapun berinisiatif nelfon sana-sini nyari bala bantuan karena sadar gak akan kuat jalan-jalan seharian disini.


Tepat jam 2, sikembarpun bangun dari tidurnya berbarengan dengan datangnya Om dan Tante mereka. Dengan bergabungnya mereka, cerita jalan-jalannya jadi lebih menyenangkan. Menyenangkan dalam arti yang sebenarnya karena sekarang si kembar ada yang jaga. Si bunda bisa lebih santai curhat sama mamanya, sayapun lebih leluasa memegang kamera. Kalau mereka rewel minta gendong karena capek jalan kaki, tinggal bilang "sana sama om Yogi" atau kalau mereka nangis minta dibeliin ini itu, tinggal bilang "sana ajak tante Rahmi". Karena awalnya gak berencana main seharian disini, jadi gak kepikiran juga ngajak mereka dari pagi, padahal om dan tante mereka ini kalau dimintain tolong enggak pernah bilang enggak apalagi kalau tau mau jalan-jalan, mereka selalu siap "diberdayakan". 

ISTANA ANAK

Cerita kurang mengenakkan kami alami saat menunggu mobil wisata nusantara untuk pergi ke wahana berikutnya, Istana Anak. Tiket yang kami punya sebenarnya masih bisa digunakan 2x lagi, tapi saking lamanya menunggu dan mobilnya satupun gak ada yang lewat, kamipun sampai salah memberhentikan mobil patroli. Sempat kepikiran bikin petisi minta pengelola TMII bayar ganti rugi karena udah membuat kami malu sekeluarga, masa mobil patroli dan mobil wara-wiri bentuknya sama. Sambil mikirin kira-kira mau minta ganti rugi apa, kamipun akhirnya menghentikan taksi untuk kesana. Lima puluh ribu dan tanpa argo. Mahal emang tapi mau gimana lagi, sedan yang kapasitasnya cuma 4 orang ini harus membawa kami 7 orang sekeluarga. Bisa anda bayangin seperti apa sesaknya kami didalamnya?.


Punya anak yang banyak takutnya ini kadang ada untungnya juga, contohnya, kali ini kami tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk badut-badut kelinci yang sejak tadi "maksa" ngajak foto bersama begitu sampai disana. Lumayankan hemat sepuluh ribu. Maaf om badut, bukannya pelit, mereka yang memegang boneka saja geli tentu saja berteriak saat kalian dekati. Rasa takut mereka terhadap air memang perlu saya tangisi, tapi rasa takut mereka terhadap boneka rasanya perlu saya syukuri. Ngak bisa jadi nelayan, mereka masih bisa jadi pilot dan pilot nga ada yang main boneka.


Keceriaan mereka yang tadi sempat hilang karena terus didekati om badut seketika kembali begitu saat melihat arena permainan yang ada di playground disamping istana. Mereka sangat senang disini, mencoba hampir semua alat permainan yang ada, mulai dari ayunan, jungkat-jungkit sampai mangkok putar. Sayapun nga kalah girangnya karena semuanya ngak perlu biaya. Seru-seruan disini kami akhiri dengan mengelilingi area Istana Anak menggunakan Kereta Api Kelinci yang jadi satu-satunya wahana berbayar yang kami naiki.


TUGU API PANCASILA

Monumen utama yang juga jadi trade mark-nya TMII ini jadi pilihan kami untuk menutup edisi jalan-jalan kali ini. Meski kondisinya ramai karena yang lain juga mungkin punya pikiran yang sama, tidak sulit bagi kami untuk menemukan spot untuk beristirahat disini. Alun-alunya sangat luas, sanggup menampung sampai ribuan orang bahkan untuk acara sekelas puncak perayaan malam tahun baru. Jadi, sangat pas rasanya melepas penat disini sambil menikmati udara sore hari setelah seharian menguras tenaga untuk mengenalkan hal-hal baru pada anak-anak. Bagaimana dengan mereka? mereka yang belum mengenal kata capek tentu saja tidak sependapat dengan kami, apalagi kalau sudah ketemu yang namanya lapangan.


Mengejar mereka yang berlarian kesana-kemari dan duduk manis sambil selonjoran merupakan dua kegiatan yang tidak mungkin bisa disatukan. Lalu bagaimana? bagi anda family traveler tentu sering mengalami hal seperti ini, disaat kita sudah merasa lelah sedangkan mereka masih ingin nambah yang bisa kita lakukan hanyalah mengalihkan perhatian mereka. Andapun pasti sependapat dengan saya, kalau tenaga kita berbanding terbalik dengan usia sementara tenaga mereka berbanding lurus dengan rasa ingin taunya, dan ini jadi bagian terberat saat berpergian bersama mereka.

Untuk anak seumuran mereka, hanya rasa haus dan ngantuk yang bisa menghentikan mereka. Tapi bagaimana kalau rasa ingin taunya mengalahkan itu semua, masih mempankah botol susunya? jawabannya tidak. Parahnya lagi setiap anak punya rasa ketertarikan yang berbeda, meski mereka terlahir kembar? iya, dan itu berlaku bagi mereka. Kevan satu suka sama yang berbau mekanik (maksudnya bisa bongkar tapi ngak bisa pasang) sedangkan Kevin suka dengan sesuatu yang ada nilai seninya (maksudnya kalau nangis ngak pernah keluar air mata, drama gitulah). Jadi untuk mereka Bubble Gun solusinya, satu sibuk utak atik cara kerja pistolnya satunya lagi sibuk ngejar gelembung sabunnya.


Butuh lebih dari sehari untuk bisa menjelajahi semua wahana rekreasi yang ada disini, konon katanya bahkan sampai seminggu (info dari bapak-bapak penjaga Taman Burung). Bagi anda yang belum pernah kesini dan berencana untuk berkunjung bersama keluarga, ada baiknya tentukan dulu tempat-tempat yang ingin anda tuju agar waktu anda tidak banyak terbuang saat pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sama halnya dengan Taman Impian Jaya Ancol, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Sedikit saran dari saya supaya liburan anda lebih berkualitas disini :

  1. Pilih 4-5 tempat saja yang sesuai dengan tema jalan-jalan anda. Kalau saya temanya "melatih anak melawan rasa takutnya" bernostalgia.
  2. Jika jarak antar tempat yang ingin anda tuju cukup jauh sebaiknya bawa kendaraan pribadi. Jangan seperti kami, malas ngerental mobil tapi malah royal sama sopir taksi.
  3. Pilihlah hari kerja, karena dihari-hari inilah kondisinya tidak terlalu ramai. Macetnya Sudirman waktu bubaran kantor ngak ada apa-apanya dibanding kalau anda kesini hari sabtu atau minggu. Sebisa mungkin hindari berkunjung saat musim libur sekolah, musim wisuda dan musim kawin. Yang ini saya serius, kalau datang pas ada yang ngadain wisuda trus anjungannya juga ada yang nyewa buat acara kawinan, mending putar balik kendaraan anda. 

Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Alamat :
Jl. Raya Taman Mini, Jakarta Timur 

Jam Operasional :
Pintu masuk TMII, setiap hari pukul 08.30 s.d 22.00 WIB. Masing-masing wahana rekreasi punya ketentuan yang berbeda.

Tiket :
Gerbang utama Rp15.000/orang (2 tahun keatas), Perahu Angsa Rp20.000/perahu, Kereta Gantung Rp40.000/orang (1 tahun keatas), Taman Burung Rp20.000/orang (2 tahun keatas), Istana Anak Rp10.000/orang (2 tahun keatas).

Website Resmi :

No comments:

Post a Comment

INSTAGRAM FEED

@indrahayadi