twinspatrol - Sesuai dengan judulnya, untuk memenuhi tujuan wisata kali ini kami memilih pergi ke pantai dan bukan toko bangunan. Meski disana juga terdapat pasir, selain pasti tidak diijinkan oleh pemiliknya, main pasir disana juga tidak cocok disebut sebagai jalan-jalan apalagi dibuatkan cerita. Meskipun begitu, kami tetap berkeinginan melakukan sesuatu yang kesannya tidak ikut-ikutan, caranya gimana? pergi ke pantai yang kebanyakan orang belum tau dan pilihan kami jatuh pada Ancol Beach City. Meski berada dalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol, belum banyak yang tau akan keberadaan pantai ini. Setidaknya itu yang kami yakini karena kami juga baru tau sehari sebelumnya.
Berbekal pengalaman yang lalu, berangkat kali ini kami pilih sore hari setelah si kembar puas dengan tidur siangnya biar mereka nga punya alasan lagi untuk hanya tidur begitu nanti sampai disana. Saat taksi yang kami pesan sampai di depan rumah, kami pun segera menaikinya. Sang sopir taksi kemudian menyapa dengan bertanya "yang sakit siapa pak?" saya pun menjawab "nga ada pak, tujuan kita ke Ancol bukan ke Rumah Sakit". "hujan-hujan gini pak?" tambahnya, seperti ingin meyakinkan kalau saya tidak salah menjawabnya. "iya pak, biar nanti pas hujannya berhenti, disananya udah sepi hahahah" jawab saya dengan pedenya.
Niatnya sih biar kelihatan anti mainstream, padahal alasannya sebenarnya karena nga mau rugi. Masa udah bikin persiapan semalaman batal pergi gara-gara hujan seharian, jadi rasa penasaran sang sopir pun terpaksa saya abaikan. Selama perjalanan saya terus membayangkan betapa serunya nanti melihat mereka langsung berlarian begitu melihat pantai, kejar-kejaran seperti yang sering mereka lakukan di rumah atau bahkan mungkin saling lempar bola pasir, kalau yang ini sih belum pernah. Rasa antusias berlebihan membuat saya pun mengabaikan istri yang menyarankan agar kami memutar balik untuk pulang dan kembali lagi esok harinya. Meski hujannya seakan sudah mau berhenti, cuaca yang masih mendung membuat si bunda pun ragu dengan jalan-jalan kali ini, sama ragunya seperti sang sopir taksi.
Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, pantai ini memang berada di kawasan Ancol atau lebih tepatnya dibelakang satu mall yang juga bernama sama, Mall Ancol Beach City. Di belakang mall ada pantai? ada, dan hanya mall ini yang punya, mungkin juga satu-satunya di Jakarta yang memiliki pantai pasir putih di halaman belakangnya. Setibanya disana saya pun bergegas mendorong stroller menuju area pantai dengan harapan si bunda tidak melihat tulisan "sale" di banyak tenant yang ada di dalam mallnya. Bisa lain ceritanya kalau dia sampai melihatnya, rewelnya si kembar saat minta dibeliin mainan masih kalah sama rewelnya si bunda bila minta dibeliin apapun yang ada tulisan sale-nya.
Diusung dengan tema "Ngemall Sambil Mantai", pantai ini memang layak disebut sebagai pantai yang paling ramah bagi anak-anak meskipun di kawasan Ancol ini terdapat banyak pantai lainnya. Setidaknya itu yang kami rasakan begitu sampai disana, suasananya yang tidak terlalu padat oleh pengunjung ditambah kebersihannya yang tampak selalu terjaga dapat membuat kami merasa betah meski baru memasukinya. Satu hal yang perlu anda ketahui bila juga ingin berkunjung kesini, disini tidak diijinkan untuk berenang karena katanya pantainya sangat curam. Sekedar main pasir dan basah-basahan di pantainya sih nga apa-apa, buat kami juga tidak masalah karena karena saya kan nga bisa berenang tujuannya memang hanya itu saja.
Melihat tingkah mereka yang menangis kencang saat hendak diturunkan dari stroller membuat apa yang tadi saya bayangkan buyar seketika. Sejenak saya terdiam dan berfikir kenapa bisa begini, anak mana yang tidak suka dengan air, anak mana pula yang tidak suka main pasir. Sambil menerawang kebelakang dan mereka-reka jawaban sampailah pada satu kesimpulan, salahkah cara kami mendidik mereka selama ini?. Haruskah saya salahkan istri karena selalu memakaikan mereka sandal hingga sekarang mereka tidak suka bila ada pasir menempel pada kakinya? ataukah saya harus menyalahkan diri sendiri karena tidak membuatkan mereka kolam renang hingga sekarang mereka tidak berani berendam meski hanya semata kaki?.
Kemampuan setiap anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan atau hal-hal baru memang tidak dapat disamakan, tidak terkecuali bila mereka kembar sekalipun. Pemandangan laut dan pasir pantai semuanya merupakan hal baru bagi mereka. Butuh kesabaran ekstra dan waktu yang cukup lama untuk meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang perlu mereka takutkan bila bermain disini. Setelah sempat hampir menyerah, Kevan yang sedari tadi tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan si bunda, perlahan mulai berani menjejakkan kakinya di atas pasir dan membasahinya dengan air.
Melihat Kevan yang meski sudah basah kuyup dan berlumuran pasir namun masih tetap asik bermain tidak juga membuat Kevin tertarik untuk ikut mencobanya. Entah mengapa yang satu ini berbeda, walaupun dilahirkan kembar tapi kepribadian mereka tidak sama. Kevan suka sama yang putih, cantik dan tinggi sedangkan Kevin suka dengan lucu, manis dan imut. Lha? ini mah bapaknya. Setengah jam tidak juga cukup baginya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ini. Meski beberapa kali diturunkan dari pangkuan bundanya reaksinya selalu sama meronta dan berteriak tanda tidak suka.
Berbeda dengan cerita sebelumnya, tujuan jalan-jalan kali ini bisa dibilang tidak terpenuhi atau paling tidak setengahnya. Hanya satu dari mereka yang kakinya bisa kami basahi dengan air dan kami kotori dengan pasir, sementara satunya lagi anda bisa lihat sendiri, setia dalam pangkuan bundanya dan tidak mau jauh dari strollernya. Mengenalkan hal-hal baru pada mereka memang baik, tapi memaksa mereka untuk menyukainya malah bisa berdampak buruk pada perkembangannya. Mungkin sebaiknya tadi sebelum kesini trial and error dulu kali yah di toko bangunan dekat rumah, biar rasanya nga rugi-rugi amat bayar mahal taksi buat kesini.
Meski Kevan sudah mulai bisa menikmati suasana pantai dan kami pun sempat berniat membelikannya mainan untuk membuat istana pasir, pada akhirnya terpaksa kami batalkan. Apa serunya dilahirkan kembar tapi mainnya masih sendiri-sendiri, begitu pikir kami. Kali ini dia harus belajar untuk mengalah, mengalah pada kembarannya dan mengalah pada egonya, karena apapun yang akan dilakukannya hanya akan dipandangi dengan tatapan kosong oleh kembarannya yang sampai akhir pun tidak bisa memahami mengapa dia tidak bisa menikmati itu semua.
Sebenarnya masih banyak aktifitas lain yang dapat mereka lakukan bersama-sama, seperti bersepeda misalnya. Belum lagi naik Banana Boat, Donut Boat, Jetski dan Ancol Mall Cruise yang konon katanya dapat dinikmati secara gratis hanya dengan berbelanja minimal Rp50.000 disalah satu tenant yang ada di dalam mallnya, namun semuanya urung kami coba. Batasan umur masih jadi kendala, mereka yang belum genap berusia 1 tahun 8 bulan belum memungkinkan untuk menikmati itu semua. Kali ini kami yang harus mengalah, karena ini semua bukan tentang saya ataupun si bunda, tapi mereka duo bujang palala.
Selain pertunjukan life music yang dapat disaksikan secara gratis, ada satu aktifitas lagi yang sebetulnya dapat kami nikmati bersama, menyaksikan pertunjukan kembang api yang khusus diadakan tiap tanggal 21 setiap bulannya. Meski berkunjung ditanggal yang sama, pertunjukan ini pun tidak sempat kami nikmati karena sekali lagi hujan turun malam harinya. Merasa cukup puas dengan Kevan dan sedikit kecewa dengan Kevin membuat kami pun memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan kali ini untuk kemudian pulang setelah sebelumnya makan malam disalah satu tenant yang ada di dalam mallnya.
Ancol Beach City
Alamat :
Pantai Carnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Pademangan - Jakarta Utara
Jam Operasional :
10.00 s.d 21.00 WIB
Tiket Masuk Ancol :
Rp25.000/orang (dua tahun ke atas), kendaran pribadi (Rp25.000 untuk mobil dan Rp15.000 untuk motor), taksi (gratis).







No comments:
Post a Comment